Kristus akan Datang Mengadili Orang Hidup dan Mati

Andalan

Yesus sebagai Penebus, Pengantara dan Hakim

Dalam pembahasan sebelumnya tentang pernyataan iman atau Syahadat, kita telah membahas bahwa Kristus telah menebus manusia dengan kedatangan-Nya ke dunia, terutama dengan penderitaan, wafat dan kematian-Nya, sehingga kita dapat menjadi anak-anak Allah (lih. Gal 4:5). Dengan kebangkitan-Nya dan kenaikan-Nya ke Sorga, Kristus menjadi Pengantara kita (lih. 1Yoh 2:1), sehingga dapat mengantar kita sampai kepada tujuan akhir, yaitu Sorga. Dan dengan duduk di sisi kanan Allah Bapa, maka segala kekuasaan untuk mengadili semua orang yang hidup dan mati telah diserahkan kepada Kristus (lih. 1Pet 3:22).

Syahadat menyatakan, “Dari situ Kristus akan datang mengadili orang hidup dan mati.” Gereja Katolik mengajarkan bahwa Kristus datang ke dunia dua kali, dalam kodrat-Nya sebagai Allah dan sebagai manusia. Kedatangan-Nya yang pertama adalah dalam peristiwa Inkarnasi, yaitu ketika Dia mengambil kodrat manusia dan lahir dari Perawan Maria dan kemudian menjalankan seluruh misi penyelamatan manusia, yang berakhir pada Misteri Paskah – penderitaan, kematian, kebangkitan dan kenaikan Kristus ke Sorga. Kristus menjanjikan bahwa Dia akan turun lagi ke dunia di akhir zaman. Pada waktu para murid melihat kenaikan Kristus di awan-awan, seorang malaikat berkata kepada mereka, “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga.” (Kis 1:11) Kedatangan Kristus kembali atau kedatangan-Nya yang kedua disebut Hari Tuhan (the day of the Lord) atau hari kiamat, yaitu berakhirnya dunia ini yang kemudian diubah menjadi langit dan bumi yang baru (lih. 2Ptr 3:13; Why 21:1); inilah yang sering disebutkan oleh Yesus sebagai hari di mana terjadinya seperti pencuri di malam hari (lih. Mat 24:43; 1Tes 5:2), di mana tentang hari dan saatnya tidak ada seorangpun yang tahu (lih. Mat 24:36).

Tanda Kedatangan Kristus yang ke-dua

Walaupun tentang hari dan saatnya tidak ada yang tahu, namun Kristus juga memberikan tanda-tanda, sehingga kita semua dapat semakin meningkatkan kewaspadaan kita. Kita juga semakin waspada dengan ajaran-ajaran yang menyesatkan, dengan cara terus berpegang pada pengajaran yang diberikan oleh Magisterium Gerjea. Dan kita juga dapat terus menaruh pengharapan kita di dalam Kristus, karena pada akhirnya peperangan akan dimenangkan oleh Kristus. Walaupun kita harus mewaspadai tanda-tanda zaman ini, namun jangan sampai kita terjebak pada pencarian tanda ini, dan melupakan persiapan yang sesungguhnya adalah paling penting, yaitu dengan senantiasa berjuang untuk bertumbuh dalam kekudusan. Berikut ini adalah beberapa tanda yang terjadi sebelum kedatangan Kristus yang kedua:

1. Kerajaan seribu tahun/ Milennium (berdasarkan Why 20)- tidak untuk diartikan literal.

“[Seorang malaikat] menangkap naga, si ular itu, yaitu Iblis dan Setan, dan mengikatnya seribu tahun lamanya….. Aku juga melihat [jiwa-jiwa yang dipenggal kepalanya karena kesaksian tentang Yesus] hidup kembali dan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Kristus untuk masa seribu tahun…. Dan setelah masa seribu tahun itu berakhir, Iblis akan dilepaskan dari penjaranya, dan ia akan pergi menyesatkan bangsa-bangsa…” (Why 20:1-8) Gereja Katolik tidak secara khusus mendefinisikan Millennium ini, namun mengambil patokan dari pengajaran St. Agustinus, yang menginterpretasikan secara allegoris, yaitu mengartikan 1000 tahun ini sebagai simbol, sebagai ‘jangka waktu yang cukup lama’, sebagaimana teks angka ’1000′ yang lain dalam Alkitab merupakan simbol dari jumlah yang banyak/ ribuan. ((Lihat Mzm 50:10 dan Dan 7:10: seribu dan beribu-ribu di sini maksudnya adalah banyak sekali)) Seribu tahun kejayaan ini dimana Iblis diikat dan para kudus memimpin bersama Kristus ini sebagai Gereja Katolik yang masuk ke dalam sejarah manusia untuk menebarkan nilai-nilai Injil. Jadi ke-seribu tahun kejayaan ini mengacu pada era Christendom. Pengikatan Iblis selama 1000 tahun ini dikaitkan dengan perumpamaan yang diajarkan oleh Kristus tentang orang kaya yang diikat: …Bagaimanakah orang dapat memasuki rumah seorang yang kuat dan merampas harta bendanya apabila tidak diikatnya dahulu orang yang kuat itu? Sesudah diikatnya, barulah dapat ia merampok rumah itu.” ((Mat 12:29, lihat St. Augustine, City of God, book XX, chap. 8.)) Kristus telah mengikat Iblis dengan korban sengsara dan salib-Nya. Namun demikian, Iblis terus berusaha mempengaruhi banyak bangsa, walaupun akhirnya mereka berangsur ‘tunduk’ dengan menerima nilai-nilai Injil dan pertobatan.

Maka, ke- 1000 tahun tersebut adalah untuk diartikan sebagai simbol, yang mengacu pada arti jangka waktu yang lama antara kedatangan Kristus yang pertama dan kedatangan Kristus yang kedua. Namun menjelang akhir zaman, terjadi pelepasan ikatan Iblis, yang dihubungkan dengan kejayaan singkat suatu kesesatan/apostasy yang besar yang memuncak pada kejayaan Antikristus. Pada saat inilah Gereja akan mengalami pencobaan yang hebat (lihat Why 20:7-9, KGK 675).

Gereja Katolik menolak untuk mengajarkan pandangan mengartikan 1000 tahun itu sebagai sesuatu masa yang literal. Hal ini dinyatakan secara tegas pada pernyataan Kongregasi untuk Ajaran Iman di Roma pada tahun 1944, yang bunyinya sebagai berikut:

In recent times, on several occasions this Supreme Sacred Congregation of the Holy Office has been asked what must be thought of the system of mitigated Millenarianism, which teaches for example, that Christ the Lord before the final judgment, whether or not preceded by the resurrection of the many just, will come visibly to rule over this world. The answer is: The system of mitigated Millenarianism cannot be taught safely.” ((Congregation for the Doctrine of the Faith, Decree of 19 July 1944, DS, 3839.))

Kelihatannya pernyataan ini sulit, tetapi maksudnya sebenarnya sederhana: sebagai orang Katolik, kita menolak doktrin yang mengajarkan bahwa sebelum kedatangan Kristus yang kedua, Kristus akan datang lagi sebagai manusia dalam sejarah manusia, untuk memimpin kerajaan-Nya di dunia.

2. Kebangkitan Antikristus (1Yoh 2:18-23, 2Tes 2:3-4, Why 13, KGK 675-676)

“Seperti yang telah kamu dengar, seorang Antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus…” (1 Yoh 2:18). “Janganlah kamu memberi dirimu disesatkan orang dengan berbagai cara…Sebab sebelum Hari itu, haruslah datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa…. Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai dengan rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat palsu, dengan rupa-rupa tipu daya jahat…” (2Tes 2:3-10) Antikris adalah seseorang yang menyebut dirinya sendiri sebagai Kristus, dan dengan bantuan Iblis akan melakukan banyak mukjizat untuk menarik banyak orang (lih. 2Tes 2:9-10) dan ia akan menganiaya Gereja (lih. KGK 675). Antikristus ini juga disebut oleh Rasul Paulus sebagai “manusia durhaka” atau yang disebut dalam kitab Wahyu sebagai “binatang yang keluar dari dalam laut” yang disembah sebagai nabi palsu.

3. Penyesatan secara besar-besaran (2 Tes 2-3, Why 13:3, Mat 24:11-12 dan Luk 18:8).

“Akan tetapi jika Anak Manusia datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?” (Luk 18:8) Alkitab mengajarkan bahwa sebelum kedatangan Kristus yang kedua akan terjadi banyak orang meninggalkan iman Kristiani. Banyak orang akan tertipu oleh nabi-nabi palsu, terutama nabi palsu yang terakhir, yaitu, Antikristus.

4. Pertobatan bangsa Yahudi (Rom 11)

“Aku mau kamu mengetahui rahasia ini: Sebagian dari Israel telah menjadi tegar sampai jumlah yang penuh dari bangsa-bangsa lain telah masuk. Dengan jalan demikian, seluruh Israel akan diselamatkan…” (Rom 11:25-26) Dengan demikian, kita dapat berharap bahwa bangsa Israel akan akhirnya menerima Yesus sebagai Sang Mesias.

5. Pemberitaan Injil sampai ke ujung dunia (Mat 24:14)

“Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya.” (Mat 24:14) Maksudnya, ini bukan hanya penyiaran Injil melalui mass-media dan internet, namun merupakan penanaman nilai-nilai Injil di setiap bangsa.

6. Tampaknya tanda Kristus [dimengerti sebagai tanda salib] di langit (Mat 24:30)

“Pada waktu itu akan tampak tanda Anak Manusia di langit dan semua bangsa di bumi akan meratap dan mereka akan melihat Anak Manusia itu datang di atas awan-awan di langit…” (Mat 24:30)

7. Tanda-tanda yang menakutkan di langit, bencana alam yang dashyat dan kerusakan hebat yang disebabkan oleh manusia (Mat 24: Luk 21:25-26).

“Segera sesudah siksaan pada masa itu, matahari akan menjadi gelap dan bulan tidak bercahaya dan bintang-bintang akan berjatuhan dari langit dan kuasa-kuasa langit akan goncang.” (Mat 24: 29) “Dan akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang. Dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelombang laut…” (Luk 21:25)

8. Kemenangan Allah dalam perjuangan akhir melawan Si jahat (lih. Why 20:7-10)

Namun pada akhirnya, perjuangan melawan si jahat akan dimenangkan oleh Allah, sehingga si jahat akhirnya dilemparkan dalam kesengsaraan abadi.

Dapatkah kita mengetahui waktu kedatangan Yesus yang kedua?

Yesus mengatakan bahwa kita tidak dapat mengetahui waktu kedatangan-Nya yang kedua (Mat 24:42). Kitab Suci berkali-kali menyatakan bahwa kedatangan Yesus yang kedua ini sifatnya seperti pencuri, dan tak pernah dapat diketahui (lih. Mat 25: 13. Luk 17:22-35, 1 Tes 5:2 dan 2 Pet 3:10). Hal ini juga dinyatakan dengan jelas dalam KGK 673 dan KGK 1040), bahwa hanya Tuhan saja yang mengetahui kapan saatnya kedatangan Yesus yang kedua tersebut.

Jika kita teliti tanda-tanda yang diberikan itu tidak dengan jelas menunjukkan urutan-urutannya, juga periode/ interval yang ada tidak jelas disebutkan jangka waktunya, dan banyak dari tanda itu mempunyai banyak arti dan telah terpenuhi, dan kita tidak tahu persis apakah hal yang lebih besar akan terjadi sebagai pemenuhan tanda-tanda tersebut. Sejarah telah membuktikan bahwa banyak orang telah berusaha mengartikan tanda-tanda, menghitung tahun-tahun untuk meramalkan akhir zaman, namun hanya berakhir dengan sejumlah teori yang tidak menjadi kenyataan.

Yesus sebagai Hakim Agung

Di dalam Kis 10:42 dituliskan sebagai berikut, “Dan Ia telah menugaskan kami memberitakan kepada seluruh bangsa dan bersaksi, bahwa Dialah yang ditentukan Allah menjadi Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati.” (bdk 1Ptr 4:5) Bagaimana kita mengartikan orang-orang hidup dan orang-orang mati? Pengertian pertama, orang-orang hidup dapat menggambarkan orang-orang yang masih hidup di dunia ini ketika Kristus datang yang kedua kali, sedangkan orang-orang mati adalah orang-orang yang telah mati dari awal penciptaan sampai kedatangan Kristus yang kedua. Pengertian yang lain adalah orang-orang hidup adalah orang-orang yang dibenarkan oleh Allah, yang akan mendapatkan kebahagiaan abadi di Sorga; sedangkan orang-orang mati adalah orang-orang jahat yang akan mendapatkan penghukuman abadi di neraka. Namun, secara prinsip, Kristus akan mengadili seluruh umat manusia, baik yang jahat maupun yang baik, baik yang hidup ataupun yang telah mati ketika Kristus datang yang kedua kali.

Dalam bukunya, The Aquinas Catechism, St. Thomas Aquinas mengutip St. Gregorius menuliskan tentang pengelompokan orang-orang yang jahat dan yang baik. Kitab Suci juga menjelaskan tentang adanya pengelompokan domba yang baik di sebelah kanan, yang kemudian memperoleh kebahagiaan sejati dan kambing yang jahat di sebelah kiri, yang mendapatkan penghukuman abadi di neraka (lih. Mat 25:31-46). Kelompok yang jahat adalah termasuk orang-orang yang tidak percaya. Mereka yang tidak percaya telah berada di bawah hukuman (lih. Yoh 3:18). Rasul Paulus menegaskan “Tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” (Ibr 11:6) Namun, orang-orang yang percayapun tidak lepas dari kategori ini, yaitu yang meninggal dalam kondisi dosa berat (lih. 1Yoh 5:16), karena upah dari dosa adalah maut (lih. Rm 6:23). Yang termasuk dalam kategori orang-orang yang baik yang diselamatkan adalah orang-orang yang mengikuti Kristus dengan setia (lih. Mat 19:28), yang mensyaratkan iman, pengharapan dan kasih.

Dua pengadilan: Pengadilan Khusus dan Pengadilan Umum

Kristus yang duduk sebagai Hakim akan mengadili yang hidup dan mati. Dalam pengajaran Gereja Katolik, kita mengenal adanya dua pengadilan, yaitu pengadilan khusus dan pengadilan umum. Pengajaran ini sesuai dengan ajaran St. Agustinus, yang mengatakan “Begitu jiwa meninggalkan tubuh, maka jiwa tersebut diadili“. Hal ini sesuai juga dengan pengajaran di Alkitab, seperti yang kita lihat pada kisah yang dialami oleh Lazarus dan orang kaya itu setelah kematian mereka (lih. Luk 16:16-31). Rasul Paulus mengajarkan, “…manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi.” (Ibr 9: 27). Maka di saat kematian kita kita akan diminta pertanggungan jawab atas urusan kita (lih. Luk 16:2). Kita akan diadili oleh Tuhan menurut perbuatan kita (1 Pet 1:17, Rom 2:6). Jika Tuhan sendiri mengajarkan bahwa gaji pekerja tidak boleh ditunda (lih Im 19:13), maka Ia sendiri pasti memenuhi peraturan tersebut, dan Ia akan memberi penghargaan kepada mereka yang telah melakukan tugasnya di dunia dengan setia seturut perintah-perintah-Nya. Maka seperti kata St. Ambrosius, “Kematian adalah penghargaan perbuatan baik, mahkota dari panen.”

Tuhan Yesus akan duduk sebagai Hakim (lih. Yoh 5:22). Pada Perjamuan Terakhir, Yesus berjanji kepada para rasul-Nya untuk datang kembali setelah kenaikan-Nya ke surga dan untuk membawa mereka kepada diri-Nya (lih. Yoh 14:3).

Setelah dihakimi secara pribadi oleh Tuhan Yesus, maka jiwa orang yang meninggal akan ditentukan masuk surga (jika ia sempurna), atau masuk neraka (jika ia meninggal dalam keadaan berdosa berat dan tidak bertobat ), atau masuk Api Penyucian (jika ia meninggal dalam keadaan berdamai dengan Allah, namun masih harus dimurnikan terlebih dahulu).

Maka, Gereja Katolik mengajarkan adanya dua macam Penghakiman setelah kematian. Yang pertama adalah Pengadilan Khusus (Particular Judgment) yang diadakan sesaat setelah kematian, dan yang kedua adalah Pengadilan Umum (General Judgment) yang diadakan pada akhir zaman, setelah kebangkitan badan.  Pada pengadilan khusus, yaitu kita masing-masing diadili secara pribadi oleh Yesus Kristus; dan kedua adalah pengadilan umum/ terakhir, yaitu pada akhir zaman, saat kita diadili oleh Yesus Kristus di hadapan semua manusia. Setelah Pengadilan Khusus itu, kita sudah ditentukan, apakah jiwa kita masuk surga, atau neraka, ataukah masih perlu dimurnikan dahulu dalam Api Penyucian. Penentuan dalam Pengadilan Khusus ini dilakukan oleh Tuhan Yesus, dan tidak dapat diubah/ ditarik kembali. Tentang Pengadilan Khusus, Katekismus Gereja Katolik menjelaskannya sebagai berikut:

KGK 1022 Pengadilan khusus adalah “Pada saat kematian setiap manusia menerima ganjaran abadi dalam jiwanya yang tidak dapat mati. Ini berlangsung dalam satu pengadilan khusus, yang menghubungkan kehidupannya dengan Kristus: entah masuk ke dalam kebahagiaan surgawi melalui suatu penyucian (bdk. Konsili Lyon: DS 857-858; Konsili Firense: DS 1304-1306; Konsili Trente: DS 1820), atau langsung masuk ke dalam kebahagiaan surgawi (bdk. Benediktus XII: DS 1000-1001; Yohanes XXII: DS 990) ataupun mengutuki diri untuk selama-lamanya (bdk. Benediktus XII: DS 1002)”

Sedangkan pada akhir jaman, setelah kebangkitan badan, kita (jiwa dan badan) akan diadili dalam Pengadilan Umum/ Terakhir. Pengadilan ini tidak lagi bersifat pribadi antara kita dengan Yesus, namun diadakan di hadapan semua orang. Pada saat inilah segala perbuatan baik dan jahat dipermaklumkan di hadapan semua mahluk, “Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak diketahui dan diumumkan.”(Luk 8: 17). Pada saat itu, seluruh bangsa akan dikumpulkan di hadapan tahta Kristus, dan Dia akan mengadili semua orang: yang baik akan dipisahkan dengan yang jahat seperti memisahkan domba dan kambing (lih. Mat 25: 32-33). Pengadilan ini merupakan semacam ‘pengumuman’ hasil Pengadilan Khusus tiap-tiap orang di hadapan segala ciptaan yang lain. Hasil Pengadilan itu akan membawa penghargaan ataupun penghukuman, bagi jiwa dan badan. Tubuh dan jiwa manusia bersatu di Surga, apabila ia memang layak menerima ‘penghargaan’ tersebut; inilah yang disebut sebagai kebahagiaan sempurna dan kekal di dalam Tuhan. Atau sebaliknya, tubuh dan jiwa manusia masuk ke neraka, jika keadilan Tuhan menentukan demikian, sesuai dengan perbuatan manusia itu sendiri; inilah yang disebut sebagai siksa kekal. Setelah akhir zaman, yang ada tinggal Surga dan Neraka, tidak ada lagi Api Penyucian, sebab semua yang ada di dalam Api Penyucian akan beralih ke Surga. Katekismus Gereja Katolik menuliskan tentang Pengadilan Umum:

KGK 1040   Pengadilan terakhir akan berlangsung pada kedatangan kembali Kristus yang mulia. Hanya Bapa yang mengetahui hari dan jam, Ia sendiri menentukan, kapan itu akan terjadi. Lalu, melalui Putera-Nya Yesus Kristus Ia akan menilai secara definitif seluruh sejarah. Kita akan memahami arti yang terdalam dari seluruh karya ciptaan dan seluruh tata keselamatan dan akan mengerti jalan-jalan-Nya yang mengagumkan, yang di atasnya penyelenggaraan ilahi telah membawa segala sesuatu menuju tujuannya yang terakhir. Pengadilan terakhir akan membuktikan bahwa keadilan Allah akan menang atas segala ketidak-adilan yang dilakukan oleh makhluk ciptaan-Nya, dan bahwa cinta-Nya lebih besar dari kematian (bdk. Kid 8:6)

Mungkin ada orang bertanya, apa gunanya Penghakiman Terakhir, jika jiwa-jiwa sudah berada di surga setelah menyelesaikan pemurnian di Api Penyucian?

Penghakiman Terakhir diadakan setelah kebangkitan badan. Dalam Pengadilan Terakhir, setiap orang akan diadili di hadapan semua ciptaan, sehingga segala perbuatan baik akan diumumkan di hadapan semua mahluk, demikian juga perbuatan yang jahat.  Tuhan Yesus akan duduk sebagai hakim yang mengadili semua orang, dan pengadilan ini dimaksudkan untuk menyatakan kebijaksanaan dan keadilan Tuhan kepada semua ciptaan. Jadi tidak ada lagi segala sesuatu yang ‘relatif’ di sini. Yang salah dinyatakan salah, yang benar dinyatakan benar, dan ini berlaku pada semua orang. Orang-orang yang baik mendapat penghargaan di hadapan semua ciptaan, dan sebaliknya, orang-orang yang jahat menerima hukuman di hadapan semua. Penghakiman ini merupakan pengulangan pengadilan khusus di hadapan semua mahluk, dan pengulangan sejarah dunia, di mana semua kejadian akan ditampilkan di hadapan semua orang, dan pada saat itu tidak ada sesuatu yang tersembunyi, yang tidak akan dinyatakan (lih. Mat 10: 26-27, Luk 8:17). Maka Penghakiman Terakhir merupakan momen yang penting, yang menjadi dasar pengharapan Kristiani (seperti yang diungkapkan oleh Bapa Paus Benediktus XVI dalam surat ensikliknya Spe Salvi/  Diselamatkan di dalam Pengharapan, 44). Sebab pada saat Penghakiman Terakhir pengorbanan para martir dan orang benar akan mendapat penghargaan. Orang-orang yang jahat akan memandang orang-orang yang baik dan berkata dengan menyesal, “Dia itulah yang dahulu menjadi tertawaan kita, dan buah cercaan kita ini, orang-orang yang bodoh… ia terbilang di antara anak-anak Allah dan bagiannya terdapat di antara para kudus… Kita inilah yang tersesat dari jalan kebenaran dan cahaya kebenaran tidak menerangi kita…” (Kebj 5:3-6).

Setelah Pengadilan Terakhir ini, tidak ada lagi Api Penyucian. Dan karena seluruh semesta alam akan dihancurkan dengan api pada akhir zaman, maka orang-orang yang baik/ benar dapat masuk surga jiwa dan badannya setelah melalui api itu, seperti Sadrakh, Mesakh dan Abednego (lih. Dan 3:1-30), tanpa terbakar. Sedang mereka yang jahat akan masuk neraka, jiwa dan badannya. Persatuan jiwa dan badan di surga inilah yang disebut sebagai kesempurnaan kebahagiaan kekal, dan sebaliknya, yang di neraka sebagai siksa kekal yang tak terlukiskan.

Maka perbedaan antara Pengadilan Khusus dan Pengadilan Umum pada akhir zaman ini adalah, pada Pengadilan Khusus, yang diadili adalah jiwa manusia, sehingga setelah mendapat keputusan (surga, neraka, atau api penyucian), yang masuk ke dalamnya hanya jiwa saja. Sedangkan sesudah Pengadilan Terakhir, yaitu setelah kebangkitan badan, maka tubuh manusia akan bersatu dengan jiwanya, dan keduanya akan masuk kedalam kebahagiaan abadi (Surga), ataupun siksa abadi (neraka). Pengadilan Khusus bersifat pribadi, antara yang meninggal dengan Kristus, sedangkan Pengadilan Umum diadakan di hadapan semua orang.

Katekismus Gereja Katolik menjelaskan arti perkataan Syahadat bahwa Yesus akan ….”mengadili orang yang hidup dan yang mati….”, sebagai berikut:

KGK 678 Seperti para nabi (bdk. Ul 7:10. Yl 3-4; Mal 3:19) dan Yohanes Pembaptis (bdk. Mat 3:7-12), Yesus pun mengumumkan pengadilan pada hari terakhir dalam khotbah-Nya. Di sana akan disingkapkan tingkah laku (bdk. Mrk 12:38-40) dan isi hati yang paling rahasia dari setiap orang (bdk. Luk 12:1-3; Yoh 3:20-21; Rm 2:16; 1Kor 4:5). Lalu ketidak-percayaan orang berdosa, yang telah menolak rahmat yang ditawarkan Allah, akan diadili (bdk. Mat 11:20-24; 12:41-42). Sikap terhadap sesama akan menunjukkan, apakah orang menerima atau menolak rahmat dan cinta Allah (bdk. Mat 5:22; 7:1-5). Yesus akan mengatakan: “Segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40).

KGK 679 Kristus adalah Tuhan kehidupan abadi. Sebagai Penebus dunia, Kristus mempunyai hak penuh untuk mengadili pekerjaan dan hati manusia secara definitif. Ia telah “mendapatkan” hak ini oleh kematian-Nya di salib. Karena itu, Bapa “menyerahkan seluruh pengadilan kepada Putera-Nya” (Yoh 5:22, bdk. Yoh 5:27; Mat 25:31; Kis 10:41; 17:31; 2 Tim 4:1). Akan tetapi, Putera tidak datang untuk mengadili, tetapi untuk menyelamatkan (bdk. Yoh 3:17) dan untuk memberikan kehidupan yang ada pada-Nya (bdk. Yoh 5:26). Barang siapa menolak rahmat dalam kehidupan ini, telah mengadili dirinya sendiri (bdk. Yoh 3:18; 12:48). Setiap orang menerima ganjaran atau menderita kerugian sesuai dengan pekerjaannya (bdk. 1 Kor 3:12-15) ia malahan dapat mengadili dirinya sendiri untuk keabadian, kalau ia tidak mau tahu (bdk. Mat 12:32; Ibr 6:4-6; 10:26-31) tentang cinta.

KGK 681 Pada hari pengadilan, pada hari kiamat, Kristus akan datang dalam kemuliaan-Nya, untuk menentukan kemenangan kebaikan secara definitif atas kejahatan, yang dalam perjalanan sejarah hidup berdampingan bagaikan gandum dan rumput di ladang yang sama.

KGK 682 Kalau Ia datang pada akhir zaman untuk mengadili orang hidup dan orang mati, Kristus yang dimuliakan akan menyingkapkan isi hati yang terdalam dan akan membalas setiap manusia sesuai dengan pekerjaannya, tergantung pada, apakah ia menerima rahmat Tuhan atau menolaknya.

Pengadilan Terakhir: antara harapan dan ketakutan

Kita mungkin sering mempertanyakan bagaimana sikap kita akan pengadilan Allah? Apakah kita harus menyikapi dengan sikap takut atau dengan penuh harapan. Sebagai umat beriman, kita harus melihatnya dengan takut dan pada saat yang bersamaan memandangnya dengan penuh harap. Sikap takut akan pengadilan terakhir dapat membantu kita untuk hidup lebih baik pada masa ini dan sikap penuh harapan akan pengadilan terakhir dapat membantu kita untuk tidak kehilangan harapan walaupun banyak ketidakadilan di dunia ini, karena tahu bahwa pada saatnya, Tuhan akan memberikan keadilan dengan seadil-adilnya.

Memang sudah selayaknya, kita harus takut akan Pengadilan Terakhir. Rasul Paulus menuliskan kepada jemaat di Filipi untuk mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar (lih. Fil 2:12). Ketakutan ini bukanlah tanpa alasan, karena adanya empat alasan ((St. Thomas Aquinas, The Aquinas Catechism, p. 67-68)) sebagai berikut:

(1). Karena kebijaksanaan Hakim. Hakim Agung yang akan mengadili kita mengetahui segala pikiran, perkataan dan perbuatan kita, karena tidak ada yang tersembunyi di hadapan-Nya. Ibrani 4:13 menyatakannya demikian “Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.” (bdk. Ams 16:2) Apalagi suara hati kita turut bersaksi, sehingga kita juga tidak dapat berbohong (lih. Rm 2:15-16). Bahkan setiap kata sia-sia yang diucapkan kita harus dipertanggungjawabkan kita pada hari penghakiman (lih. Mat 12:36).

(2). Karena kekuasaan Hakim Agung. Yesus mengatakan “Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.” (Mat 10:28) Dengan demikian, kita seharusnya berhati-hati dalam setiap pikiran, perkataan maupun perbuatan kita, sehingga kita tidak mendapatkan penghukuman selamanya di neraka.

(3). Karena keputusan yang tetap dari Hakim Agung.  Menjadi satu permenungan bagi kita bahwa pada saatnya nanti, masing-masing dari kita akan menerima keputusan dari Hakim Agung dan keputusan yang diberikan secara benar dan bijaksana tidak adakan berubah dan akan berlaku untuk selamanya. Kitab Mazmur menuliskan “Apabila Aku menetapkan waktunya, Aku sendiri akan menghakimi dengan kebenaran.” (Mzm 75:2).

(4). Karena Hakim Agung akan menyatakan keadilan-Nya. Kita mengenal Allah sebagai Pribadi yang penuh kasih, yang senantiasa siap sedia mengampuni dosa manusia, seperti yang digambarkan dalam perumpamaan anak yang hilang (lih. Luk 15:11-31). Namun, dalam Pengadilan, maka Hakim Agung akan menunjukkan keadilan-Nya yang tidak terpisah dari kasih-Nya.

Namun sebagai umat Katolik, Pengadilan Terakhir tidak boleh hanya dilihat sebagai peristiwa yang menakutkan, namun juga memberikan pengharapan, karena Kristus sendiri telah datang ke dunia untuk menebus dosa dunia penderitaan dan kematian-Nya di kayu salib. Kasih Allah inilah yang harus menjadi harapan bagi kita. Paus Benediktus XVI, dalam ensiklik “Spe Salvi” bagian III, 41-48, memaparkan bahwa pengadilan terakhir merupakan harapan bagi seluruh umat beriman, karena pengadilan Allah menjadi saat rahmat dan keadilan. Segala ketidakadilan di dunia akan diluruskan oleh Allah dengan keadilan-Nya yang sempurna, sehingga seluruh makhluk akan berseru “Ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa, benar dan adil segala penghakiman-Mu.” (Why 16:7) Sudahkah kita siap menghadap Kristus dalam Pengadilan Khusus dan Pengadilan Umum?

Iklan

Politik Identitas Tak Terhindarkan, dan Tak Selalu Buruk

Sudah jelas sejak awal, pemilu tahun 2019 tidak akan sepi dari politik identitas. Para aktor politik sadar betul bahwa untuk menang tidak cukup mengandalkan adu gagasan dan tawaran-tawaran rasional tentang bagaimana menciptakan lapangan kerja, memberantas korupsi, memerangi terorisme, meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan seterusnya.

Jangankan di Indonesia, negara yang penuh sesak dengan sentimen-sentimen komunal, isu-isu identitas masih berperan penting dalam kontestasi pemilu di Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Di negara-negara Barat itu, pertarungan politik tidak hanya ditentukan oleh isu-isu rasional seperti layanan kesehatan dan cara mengatasi pengangguran, tetapi juga oleh posisi para kandidat dan partai terkait isu-isu yang kental muatan identitas seperti keberadaan imigran, aborsi, homoseksualitas, pemakaian hijab dan cadar, dan seterusnya. Barangkali tepat apa yang dikatakan oleh Bryan Caplan dalam bukunya The Myth of Rational Voter: Why Democracies Choose Bad Policies (2008) bahwa pemilu yang (semata) ditentukan oleh pemilih yang rasional adalah mitos.

Berbeda dengan Pilpres 2014, ketika politik identitas lebih kuat dimainkan pasangan Prabowo-Hatta, kedua pasang calon presiden dan wakil presiden untuk Pilpres 2019 sama-sama memberi warna identitas dalam manuver mereka. Pasangan Prabowo-Sandiaga Uno berusaha menyentuh emosi publik dengan mengklaim mereka didukung ulama, salat Jumat di masjid Sunda Kelapa sebelum mendaftar ke Komisi Pemilihan Umum, dan segera setelah itu mengumumkan rencana menemui Rizieq Syihab di Mekkah untuk membuktikan bahwa mereka taat pada ulama. Di kubu Jokowi, yang pada pemilu sebelumnya menjadi korban politik kebencian berdasarkan identitas, merespons dengan berpaling pada politik identitas untuk mencegah serangan yang menggunakan isu SARA. Pilihan terhadap Rais ‘Aam Syuriah PBNU yang juga ketua MUI, Kiai Ma’ruf Amin, sebagai calon wakil presiden bagi Jokowi tidak bisa dimungkiri adalah wujud praktik politik identitas.

Lalu apa yang bisa diharapkan dari demokrasi yang diwarnai oleh praktik-praktik politik identitas? Apakah politik identitas selalu buruk bagi demokrasi?

Good, Bad, Ugly

Idealnya, pemilu dalam demokrasi adalah sarana yang damai dan menjadi alternatif dari cara kekerasan bagi semua kelompok dalam masyarakat untuk memperjuangkan kepentingan mereka atau merebut kekuasaan. Dalam konteks ini, penggunaan identitas dalam politik adalah sah dan belum tentu berbahaya bagi demokrasi. Ilmuwan politik terkenal Amy Gutmann dalam bukunya Identity in Democracy (2011) menulis tentang peran krusial identitas dalam demokrasi. Bagi Gutmann, identitas dalam demokrasi adalah wujud dari agregasi kepentingan yang merefleksikan realitas masyarakat. Ia meyakini demokrasi tidak hanya soal kepentingan yang bersifat rasional, tetapi juga soal identitas (democratic politics is both interest and identity driven“).

Demokrasi akan kehilangan kontestasi tanpa identitas di dalamnya. Identitas dan kepentingan (interest) biasa saling memengaruhi dalam relasi yang kompleks. Penulis lain, Amy Chua, dalam bukunya Political Tribes: Group Instinct and the Fate of Nations(2018) bahkan menyatakan tren global menunjukkan bahwa pemanfaatan sentimen identitas—atau yang ia sebut political tribes”—saat ini tak terelakkan dalam percaturan politik. Pembentukan aliansi politik berdasakan kesamaan identitas, nilai, atau latar belakang adalah konsekuensi yang tidak bisa dihindarkan kehadirannya dalam demokrasi yang menjamin kebebasan. Bahkan bisa dibilang, semua politik adalah politik identitas.

Dalam pratiknya di Indonesia, bisa dipastikan bahwa pemilu akan terus diwarnai para aktor politik yang membangun citra diri yang lekat dengan simbol-simbol kultural atau agama. Kita akan menemukan baliho para kandidat pemilu dengan pakaian, aksesoris, atau pesan-pesan yang mengasosiasikan diri mereka dengan kelompok identitas tertentu.

Jika membebaskan demokrasi sepenuhnya dari politik identitas adalah hal yang sulit terwujud, jika bukan mustahil, maka yang diperlukan adalah penegakan mekanisme yang memastikan bahwa praktik politik identitas dilakukan secara beradab. Jika pada kenyataanya harus diakui bahwa para pemilih tidak selalu bersikap rasional, maka idealnya aktor-aktor politik, baik yang bermain di depan maupun belakang panggung, bisa menarik batas yang tegas antara politik identitas yang sah dan politik identitas yang bernuansa kebencian komunal.

Amy Gutmann membedakan tingkat keadaban politik identitas dengan menawarkan tiga kategori penggunaan identitas dalam demokrasi, yang ia sebut sebagai goodbad, dan ugly. Politik identitas bisa menjadi good (beradab) atau mempunyai peran positif dalam demokrasi ketika ia menyediakan nilai solidaritas dalam membangun kesadaran publik tentang kewargaan (civic) dan melawan diskriminasi kelompok dengan tanpa mempromosikan supremasi kelompok sendiri dan kebencian terhadap kelompok lain.

Politik identitas bisa tidak beradab dan berbahaya (ugly) jika mempromosikan nilai yang mengutamakan supremasi kelompok sendiri, mengampanyekan diskriminasi, dan menekankan cara pandang antagonistis terhadap kelompok identitas lain, apalagi sampai melegitimasi kekerasan. Politik identitas menjadi berbahaya jika dilakukan dengan membangun narasi tentang perbedaan primordial atau rasial antarkubu dalam kontestasi politik. Retorika-retorika politik yang menggambarkan pertarungan politik dengan merujuk pada perang agama, dengan menarasikan musuh dalam label-label negatif keagamaan atau rasial, adalah praktik politik identitas yang berbahaya.

Di antara keduanya ada bentuk politik identitas yang oleh Gutmann disebut bad. Politik identitas dalam kategori ini tidak secara aktif mempromosikan kesadaran publik yang positif, tetapi minimal tidak mengancam demokrasi dengan mempromosikan wacana permusuhan dan melegitimasi kekerasan antarkelompok identitas.

Politik Identitas Tanpa Kebencian

Pemilu 2014 dan Pilkada DKI 2017 memberi pelajaran tentang mahalnya ongkos sosial yang dikorbankan akibat politik identitas yang tidak beradab. Penggunaan narasi perang agama dengan menyematkan label kafir terhadap pihak lawan adalah wujud dari politik identitas yang tidak beradab karena mendorong eskalasi kontestasi pemilu menjadi pertarungan yang bersifat eksistensial. Adalah sah ketika individu atau kelompok sosial mengklaim bahwa perjuangan politik mereka adalah untuk mengangkat derajat umat agama tertentu, melindungi hak-hak komunitas suku, masyarakat adat, dan seterusnya. Kita tidak perlu heran ketika aktor politik menggunakan simbol-simbol komunal untuk mengasosiasikan diri mereka dengan kelompok yang mereka perjuangkan, karena demokrasi memang tidak bisa sepenuhnya bebas dari isu identitas.

Namun menjadi tidak beradab dan berbahaya ketika niat untuk memperjuangkan kepentingan kelompok itu disertai dengan retorika-retorika politik identitas yang tak beradab, yang menonjolkan sikap kebencian dengan mengampanyekan diskriminasi terhadap pihak lain atas dasar sentimen primordial.

Pemilu-pemilu sebelumnya patut memberi paling tidak dua pelajaran. Pertama, politik kebencian, apalagi dengan menggunakan simbol-simbol sakral seperti rumah ibadah dan teks keagamaan, mempunyai daya rusak yang mendalam terhadap kohesi sosial. Kedua, politik identitas yang penuh kebencian tidak selalu ampuh untuk memenangkan pertarungan elektoral.

Praktik politik yang mengedepankan isu identitas bisa dihindari jika ada mekanisme politik yang efektif mendorong aktor-aktor politik untuk mendapatkan dukungan dari pemilih yang plural. Ketika para aktor sadar bahwa suara pemilih dari kalangan minoritas dibutuhkan untuk menang, mereka akan ‘dipaksa’ untuk menjangkau kelompok yang rentan menjadi korban diskriminasi. Ketika para pialang politik memahami bahwa untuk menang mereka tidak bisa hanya bergantung pada dukungan kelompok etnis dan keagamaan yang dominan, mereka akan dituntut untuk memakai retorika yang moderat dan inklusif.

Pada akhirnya kita berharap bahwa, jika pemilu yang sepenuhnya bebas dari politik identitas mustahil terwujud, paling tidak praktik politik identitas dalam pemilu 2019 tidak melanggar batas-batas keadaban.

______

Mohammad Iqbal Ahnaf – August 19, 2018

Gambar header: ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf

Kesalehan Umat dan Liturgi: Kemungkinan Penyerasian

Tentang devosi dan liturgi

Kesalehan umat menurut Direktorium Tentang Kesalehan Umat dan Liturgi (Pia Populi Christiani Exercitia = PPCE) no. 9 adalah “berbagai ungkapan kultis yang bersifat perorangan atau jemaat yang – dalam konteks iman Kristiani – diilhami pertama-tama bukan oleh liturgi kudus, tetapi oleh bentuk-bentuk yang diwariskan oleh bangsa atau orang tertentu, atau oleh kebudayaan mereka”. ((Direktorium Tentang Kesalehan Umat Dan Liturgi, terjemahan oleh Komisi Liturgi KWI, dari dokumen yang dikeluarkan oleh Kongregasi Ibadat dan Tata Tertib Sakramen, Directory on Popular Piety and the Liturgy (Pia populi christiani exercitia = PPCE, Vatican City 17 Desember 2001), Obor Jakarta, 2011.)) Ini adalah harta umat Allah yang haus akan Allah sendiri dan membuat umat mencontohi Allah untuk bermurah hati dengan penuh kasih dan rela berkorban dalam memberikan kesaksian iman. Ungkapan kesalehan umat antara lain: tata gerak, teks dan rumusan, nyanyian dan musik, patung kudus, tempat kudus dan saat kudus. ((PPCE 15-20.)) Di samping kesalehan umat ada juga ulah kesalehan, devosi dan religiositas rakyat serta liturgi. ((Kalau kesalehan umat diilhami oleh bentuk-bentuk yang diwariskan bangsa atau orang tertentu atau kebudayaan mereka, maka ulah kesalehan sebagai ungkapan kesalehan Kristiani, diilhami oleh liturgi dan mengantar umat Kristiani kepada liturgi. Ulah kesalehan selalu mengacu pada Wahyu Ilahi publik dan memiliki latar belakang gerejawi (PPCE 7). Istilah devosi berarti aneka kebiasaan eksternal (doa, madah, kebiasaan yang dikaitkan dengan waktu atau tempat tertentu, panji-panji, medali, busana, atau kebiasaan) yang dijiwai oleh sikap iman dan mengungkapkan hubungan khusus umat beriman dengan Tritunggal, Santa Maria dan para kudus (PPCE  8). Religiositas rakyat adalah pengalaman rohani universal yang memiliki nilai manusiawi dan rohani yang amat tinggi dan tidak selalu harus terkait dengan wahyu kristiani (PPCE 10).))

Dalam hubungan dengan liturgi, Gereja menyatakan bahwa liturgi adalah tindakan yang kudus dan paling utama dari Kristus dan Gereja. ((Bdk. SC 7.)) Tidak ada tindakan lain yang menandingi daya dampak dari liturgi. Maka umat beriman perlu sadar bahwa liturgi jauh lebih unggul dibandingkan semua bentuk doa Kristiani. Liturgi bersifat mutlak, sedangkan berbagai bentuk kesalehan umat bersifat fakultatif. ((PPCE 11.)) Penegasan ini tidak bermaksud meremehkan atau melecehkan dan menolak bentuk-bentuk kesalehan umat. Sebaliknya haruslah diberikan penghargaan yang tepat dan bijaksana terhadap kekayaan kesalehan umat. Dalam hal ini Injil harus menjadi acuan untuk menilai ungkapan kesalehan Kristiani. Untuk liturgi dan kesalehan umat tetap berlaku pedoman yang terdapat dalam Instruksi IV, Varietates Legitimae, 48: “tidak boleh memasukkan ritus-ritus yang dirasuki oleh takhyul ke dalam Gereja, penyembahan berhala, animisme, dan balas dendam atau hal-hal yang terkait dengan seks”. Berdasarkan pedoman ini kita bisa bertanya sejauh mana kesalehan umat diresapi oleh semangat biblis, liturgis, ekumenis, dan antropologis-pedagogis? ((Lihat PPCE 12: “Kesalehan umat hendaknya diresapi oleh semangat: biblis, karena tidak mungkin membayangkan doa Kristiani tanpa terkait langsung atau tidak langsung dengan Kitab Suci; semangat liturgis, agar kesalehan umat dapat menjadi persiapan dan gema yang tepat untuk misteri-misteri yang dirayakan dalam liturgi; semangat ekumenis, dengan mempertimbangkan kepekaan dan tradisi-tradisi umat Kristen lain tanpa dibatasi oleh rintangan-rintangan yang tidak semestinya ada; semangat antropologis, yang melestarikan simbol maupun ungkapan-ungkapan yang penting bagi bangsa tertentu sambil menjauhkan diri dari arkaisme yang hambar, dan semangat antropologis yang giat mengupayakan dialog yang bersahabat dengan kepekaan masa kini. Agar berhasil, pembaruan seperti itu harus diilhami kesadaran pedagogis dan dilaksanakan secara bertahap, dengan selalu mempertimbangkan waktu dan situasi-situasi khusus.”))

Liturgi memiliki nilai keselamatan sejauh lebih diunggulkan dibandingkan dengan semua ulah kesalehan. Keunggulan itu terletak pada inti hakekat liturgi sebagai pelaksanaan tugas imamat Yesus Kristus demi kemuliaan Allah dan keselamatan manusia (misteri Kristus). Sedangkan olah kesalehan adalah suatu bentuk penghayatan iman yang lebih bersifat pribadi.

Devosi (ulah kesalehan, kesalehan umat ) berasal dari kata Latin devotio (devovere) yakni suatu sikap hati serta perwujudannya, yang dengannya orang secara pribadi mengarahkan diri kepada sesuatu/seseorang yang dihargai atau dijunjung tinggi, dicintai atau ditujui. Devosi mencakup keterlibatan personal yang meliputi seluruh manusia khususnya segi emosional dan afektif, tidak hanya akal budi atau nalar.

Devosi dapat dibedakan sebagai berikut:

  1. Devosi religius. Devosi ini diarahkan kepada Allah dan bersangkutan dengan Allah seperti devosi kepada Hati kudus Yesus. Ada pula yang diarahkan kepada Bunda Maria seperti  Doa Rosario. Dan ada yang diarahkan kepada orang kudus (santo atau santa).
  2. Devosi a-religius. Olah kesalehan ini tidak bersifat keagamaan.  Devosi ini diarahkan kepada manusia yang masih hidup dan tak berhubungan dengan Allah. Misalnya penghormatan kepada raja, ratu, sultan, permaisuri dan pahlawan.

Bila kegiatan puji-syukur dan penyembahan kepada Allah Tritunggal Maha Kudus serta penghormatan kepada orang-orang kudus dan para malaikat dilaksanakan dalam perayaan liturgi, maka kegiatan penyembahan dan penghormatan itu menjadi kegiatan liturgis. Bila kegiatan penyembahan dan penghormatan itu dilaksanakan di luar perayaan liturgi, maka kegiatan itu disebut devosi (ulah kesalehan dan kesalehan umat).

Dalam setiap perayaan liturgi kita mewujudkan penghormatan dan penyembahan kita kepada Allah Tritunggal Maha Kudus dan kita juga menunjukkan penghormatan khusus kepada orang kudus dan para malaikat. Misalnya dalam perayaan Ekaristi pada umumnya kita menyatakan puji-syukur dan sembah-sujud serta  permohonan kita kepada Allah Tritunggal Maha Kudus, Bapa dan Putra dan Roh Kudus, lewat doa, nyanyian, sikap tubuh, simbol, peralatan, dekorasi dll. Dalam Ekaristi yang sama kita menyatakan penghormatan kepada para kudus dan para malaikat. Puji syukur dan penyembahan kepada Allah Tritunggal kita tunjukkan juga dalam Ekaristi Hari Raya Tritunggal Maha Kudus. Dalam Hari Raya Tubuh dan Darah Yesus Kristus, kita memanjatkan puji-syukur dan sembah sujud kepada Sakramen Maha Kudus Tubuh dan Darah Yesus Kristus.

Devosi religius dalam arti khusus adalah semua kegiatan puji-syukur dan penyembahan kepada Allah serta penghormatan terhadap orang-orang kudus dan para malaikat yang dilakukan manusia beriman di luar perayaan liturgis. Dalam hal ini devosi adalah bentuk kegiatan non liturgis. Misalnya doa koronka Kerahiman Ilahi, Renungan Jalan Salib, Adorasi Sakramen Mahakudus, Doa Rosario, Novena kepada Santo Antonius dari Padua yang dilaksanakan di luar perayaan liturgi.

Perbandingan Devosi (Ulah Kesalehan dan Kesalehan Umat) dengan Liturgi

Sifat liturgi adalah:

  1. Resmi. Karena liturgi merupakan kegiatan yang diakui resmi oleh Gereja. Ada ketentuan resmi yang dikeluarkan oleh pimpinan Gereja karena wewenangnya dan tugasnya untuk memelihara dan meneruskan warisan resmi liturgi sebagai salah satu unsur penting dalam membentuk dan mengembangkan persekutuan beriman.
  2. Komunal. Karena Liturgi (leitos: yang berhubungan dengan banyak orang dan ergon: kegiatan atau tindakan) adalah kegiatan bersama, melibatkan banyak orang dan dibuat demi kepentingan umum (banyak orang).
  3. Obyektif. Karena tindakan liturgis dari dirinya sendiri mengandung nilai keselamatan. Seluruh perayaan yang dilaksanakan dengan pola resmi yang telah disepakati membuat umat beriman mengalami kehadiran Allah dan karya-Nya yang menyelamatkan.
  4. Mutlak untuk mengembangkan hidup dalam Kristus. ((PPCE 11.)) Dalam hal ini Gereja memandang liturgi sebagai suatu kegiatan yang harus dilaksanakan oleh umat beriman agar hidupnya  dan hidup orang lain dalam persekutuan beriman bertumbuh dan berkembang dengan baik. Liturgi mesti dirasakan dan dialami sebagai kebutuhan dalam hidup rohani dan dilaksanakan dengan kebebasan sebagai anak-anak Allah dan bukan sebagai beban atau paksaan yang menindih.

Sifat Devosi adalah:

  1. Tidak resmi. Karena devosi tidak terikat pada aturan resmi Gereja dalam bidang liturgi. Orang yang melaksanakan devosi boleh memilih pola yang cocok dengan kebutuhannya. Ada fleksibilitas yang lebih besar dalam menyelenggarakan devosi. Urutan dan unsur-unsurnya bisa berubah-ubah sesuai dengan keinginan orang yang melaksanakan devosi itu. Akan tetapi dalam rangka menghindarkan penyalahgunaannya dan praktek yang menyesatkan, pimpinan Gereja (Universal dan Patikular) memberikan pedoman dan rekomendasi. ((Bdk. Bernhard Raas, SVD, Popular Devotions, Making Popular Religious Practices More Meaningful Vehicles of Spiritual Growth, Divine Word Publications, Manila, 1992, hlm. 16.))
  2. Lebih personal. Karena devosi lebih mengikuti keinginan pribadi atau sekelompok orang yang mempunyai keinginan yang sama. Devosi tidak terikat pada kebersamaan. Bisa dijalankan bersama-sama kalau orang yang ambil bagian dalam devosi mempunyai keinginan pribadi yang sama. Tidak mengherankan bila dalam devosi hasrat dan kepentingan pribadi mendapatkan pemenuhannya.
  3. Cenderung emosional. Karena devosi lebih erat berkaitan dengan rasa perasaan seseorang. Hasrat hati dan emosi pribadi dapat diungkapkan dengan baik tanpa rasa takut. Dapat saja rasa perasaan yang sama dimiliki oleh banyak orang. Maka terbentuklah kelompok devosi yang terdiri dari banyak anggota dari berbagai latar-belakang.
  4. Fakultatif karena Gereja tidak mewajibkan orang beriman untuk melaksanakan kesalehan umat meskipun kegiatan itu sungguh bernilai dan disukai banyak orang ((PPCE 11))  yang akhirnya mewajibkan dirinya sendiri untuk melaksanakannya.

Hubungan Devosi dan Liturgi

Kedua kegiatan ini berbeda tetapi keduanya tidak saling meniadakan atau tidak saling mengganti. Liturgi tidak menghilangkan devosi dan juga devosi tidak menghilangkan liturgi. Ada tradisi yang hanya memperhatikan kegiatan liturgis dan tidak memberi tempat yang luas kepada devosi (tradisi Liturgi Gereja Othodoks dan Gereja Reformasi/Protestan).

Sebaliknya dalam tradisi Gereja Katolik terdapat masa di mana devosi begitu berkembang dan hampir mengalahkan kegiatan liturgis misalnya pada abad pertengahan dan khususnya pada masa Barok. ((Bdk. PPCE 41: “Pada masa Reformasi Katolik, hubungan antara liturgi dan kesalehan umat tidak dapat dilihat hanya sebatas pertentangan antara kemapanan dan perkembangan. Kadang-kadang muncul keanehan-keanehan: ulah kesalehan kadang-kadang berlangsung di tengah-tengah kegiatan liturgis dan mendominasinya. Dalam praktik pastoral kadang-kadang kesalehan umat itu lebih penting daripada liturgi. Situasi seperti ini menampakkan ketidakterikatan pada Kitab Suci dan tidak begitu mempedulikan sentralitas misteri Paskah Kristus, dasar dan puncak seluruh ibadat Kristiani, dan ungkapan utamanya dalam liturgi pada hari Minggu.”)) Karena itu ada orang yang amat senang dengan devosi dan merasa puas hanya dengan devosi lalu tidak suka atau menolak bahkan membenci liturgi. Liturgi dirasa sangat kering dan membosankan karena tidak sesuai keinginan dan rasa perasaan pribadinya.

Di antara kedua kecenderungan yang mengarah kepada kegiatan yang ekstrim berat sebelah (hanya memperhatikan kegiatan liturgis atau hanya memperhatikan kegiatan devosional dengan akibat saling meniadakan), Gereja Katolik pada prinsipnya mengambil jalan tengah. “Oleh karena itu, penting sekali bahwa kesalehan umat tidak dipertentangkan, disamakan, atau bahkan dilihat sebagai pengganti liturgi. Kesadaran akan makna unggul liturgi dan penelitian akan ungkapan-ungkapannya yang lebih asli tidak boleh mengarah pada sikap mengabaikan kesalehan umat, atau meremehkannya, atau menganggapnya berlebihan atau bahkan membahayakan Gereja.” ((PPCE 50)) Kedua kegiatan itu diakui oleh Gereja sebagai kegiatan yang saling mempengaruhi secara positif atau saling menyuburkan. ((PPCE 58: “Liturgi dan kesalehan umat adalah dua bentuk ibadat yang saling berhubungan dan saling menyuburkan buah masing-masing. Tetapi dalam hal ini liturgi tetaplah merupakan acuan utama… Dan kesalehan umat, justru karena corak simbolis dan ekspresifnya, sering dapat melengkapi liturgi dengan pandangan-pandangan penting untuk inkulturasi dan mendorong suatu kreativitas yang dinamis dan efektif.” Bdk. Sidang Pleno III Konferensi Uskup Amerika Latin, Documento de Puebla, 465 e. Bdk. juga dengan PPCE 73: “Liturgi sedari hakikatnya, jauh mengungguli ulah kesalehan, sehingga praktik pastoral harus selalu memberikan kepada liturgi kudus ‘tempat lebih unggul yang selayaknya ia miliki dalam hubungan dengan ulah kesalehan’; liturgi dan ulah kesalehan hidup berdampingan selaras dengan hierarki nilai dan hakikat khas kedua ungkapan kultis ini.”)) Liturgi mempengaruhi devosi dan sebaliknya devosi mempengaruhi liturgi sebagai dua kegiatan yang saling melengkapi dalam mengatasi kemungkinan kekurangannya. Kedua-keduanya harus mendapat perhatian yang wajar pada waktu dan tempatnya.

Devosi yang dibuat sebelum dan sesudah kegiatan liturgis dapat sangat menyemangati dan menghidupkan orang beriman untuk  merayakan  liturgi karena devosi tersebut telah menanamkan kesadaran pribadi yang kuat untuk memuji,  memuliakan dan menyembah Allah serta memberikan penghormatan kepada para malaikat dan orang-orang kudus. Orang yang secara pribadi mempunyai penghormatan yang besar terhadap Santa Perawan Maria akan sangat dibantu untuk menyadari peran Maria sebagai Bunda, Perawan, Pendoa, Pendengar dan Pelaksana Sabda Tuhan dalam Perayaan Ekaristi dan sekaligus devosan itu mendapat dorongan dan semangat untuk berperan aktif juga dalam Ekaristi seperti Maria.

Liturgi sebagai perayaan bersama demi kepentingan umum, dapat melengkapi aspek pribadi dan subyektif dari devosi sehingga kerohanian orang yang berdevosi kuat menjadi lebih terbuka terhadap kepentingan umum dan terhindar dari egoisme rohani atau eksklusifisme dan fanatisme kelompok devosi. Dalam arti inilah liturgi dapat disebut “puncak dan sumber” kegiatan devosional umat beriman dan serentak menjadi norma yang memberi penilaian atau kritik ((Bernard Raas, SVD, op.cit. hlm. 20)) dan koreksi pada kegiatan kesalehan umat.

Jadi dibutuhkan keseimbangan dalam kegiatan devosional dan liturgis. Gereja menghargai kedua kegiatan ini karena masing-masingnya mempunyai peran khusus dalam menumbuhkembangkan iman. Untuk itu semua ulah kesalehan harus selaras dengan liturgi kudus dan sedikit banyak harus bersumber pada liturgi dan menghantar umat kepada perayaan liturgi. ((SC 13))  Keselarasan itu mengandaikan peran dari devosi sebagai kegiatan yang turut mempersiapkan dan menyemangati umat beriman untuk mengikuti dan mencintai liturgi bukan untuk menjauhkan atau membenci liturgi. Selanjutnya keselarasan itu juga menuntut agar devosi dijalankan sesuai dengan semangat dan isi yang sudah dialami dan dirayakan dalam liturgi. Lebih dari itu keselarasan dimaksud menuntut agar devosi tidak mempertahankan bentuknya di tengah perayaan liturgis tetapi rela memenuhi tuntutan liturgi ((PPCE 74: “Perhatian saksama terhadap asas-asas ini hendaknya menumbuhkan usaha nyata untuk – sedapat mungkin – menyelaraskan ulah kesalehan dengan irama dan tuntutan-tuntutan liturgi dengan menghindari setiap pemaduan atau pencampuradukan kedua bentuk kesalehan ini. Hal ini akan menjamin tidak munculnya bentuk-bentuk cangkokan atau bentuk-bentuk yang kacau-balau karena pencampuradukan liturgi dan ulah kesalehan; juga menjamin bahwa, bertentangan dengan pemikiran Gereja, ulah kesalehan dihilangkan, seringkali dengan meninggalkan kekosongan yang akan sangat merugikan kaum beriman.”)) dan dalam perayaan-perayaan liturgi mesti mengalami proses untuk beralih dari kegiatan devosional menjadi unsur kegiatan liturgis.

Tempat dan kesempatan melakukan devosi yang benar adalah sebelum dan/atau sesudah perayaan liturgi. Bukan memasukkan devosi (ulah kesalehan dan kesalehan umat) di tengah perayaan liturgi. “Perbedaan obyektif antara ulah kesalehan dan kegiatan-kegiatan devosional hendaknya selalu jelas dalam ungkapan ibadahnya. Maka dari itu, rumusan-rumusan yang khas untuk ulah kesalehan hendaknya tidak dicampuradukkan dengan kegiatan liturgis. Kegiatan devosi dan kesalehan umat hendaknya tetap di luar perayaan Ekaristi kudus dan sakramen-sakramen lain.” ((PPCE 9))

Perlu ditinjau kembali kebiasaan di tempat tertentu untuk memasukkan devosi di tengah perayaan liturgi bahkan mengganti unsur atau bagian tertentu dalam perayaan. Misalnya perlu ditinjau kembali praktek membuat adorasi kepada Sakramen Mahakudus sesudah Anak Domba Allah, sebelum komuni imam dan umat dengan alasan: umat suka membuat adorasi tetapi tidak punya waktu untuk kembali lagi ke gereja dan membuat kunjungan dan penyembahan Sakramen Mahakudus secara pribadi atau bersama. Perlu ditinjau lagi praktek membuat doa Rosario dan Renungan Jalan Salib sebagai pengganti Liturgi Sabda, dengan alasan: dalam doa Rosario, kita tidak hanya berdoa Salam Maria, tetapi juga kita mempunyai kesempatan untuk mendengarkan bacaan Kitab Suci dan merenungkan peristiwa-peristiwa Rosario (Gembira, Sedih, Terang, Mulia) yang berhubungan erat dengan hidup dan karya Yesus Kristus seperti yang ditulis dalam Kitab Suci. Demikian pula Renungan Jalan Salib semuanya berdasarkan bacaan Kitab Suci yaitu tentang derita dan kematian Yesus Kristus sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci. Menghadapi gejala-gejala ini kita mesti berpegang teguh pada pandangan Gereja tentang Doa Rosario dan Renungan Jalan Salib. Menurut tradisi selama ini, doa Rosario dan Renungan Jalan Salib diterima sebagai bentuk-bentuk devosi yang menjadi sarana ampuh untuk menghayati iman dengan lebih mendalam, tetapi harus diakui bahwa devosi-devosi itu tetap berbeda dari liturgi dan tidak boleh disamakan dengan liturgi atau menjadi pengganti bagian-bagian perayaan liturgi.

Kemungkinan Penyerasian

Mengakui perbedaan dan kesamaan antara liturgi dan devosi (ulah kesalehan serta kesalehan umat) tidak berarti kita kehilangan kemungkinan untuk membuat penyerasian devosi dengan liturgi. Itu berarti devosi melewati suatu proses untuk menjadi bagian utuh dari liturgi sehingga kegiatan itu tidak lagi disebut devosi di dalam liturgi tetapi telah berubah menjadi kegiatan liturgis. Ini sebenarnya sebuah proses penyesuaian (inkulturasi) kesalehan umat sebagai unsur dari kegiatan liturgis. Dalam proses ini, seperti sudah dikatakan sebelumnya, devosi mesti memenuhi tuntutan-tuntutan liturgis ((Kongregasi Ibadat dan Tata Tertib Sakramen, Instruksi Pelaksana IV atas Konstitusi Liturgi (No. 37-40), Varietates Legitimae, 45))  agar menjadi sungguh-sungguh suatu kegiatan liturgis.

Kaidah-kaidah yang selama ini menjadi pegangan untuk suatu proses inkulturasi dalam perayaan liturgi haruslah juga diperhatikan dalam proses penyerasian devosi dengan liturgi. “Sehubungan dengan pengambilalihan sejumlah unsur kesalehan umat dalam proses inkulturasi liturgi, hendaknya sungguh diperhatikan instruksi terkait yang sudah diterbitkan oleh Kongregasi Ibadat dan Tata Tertib Sakramen.” ((PPCE 92. Bdk. PPCE 84)) Dalam instruksi itu, ulah kesalehan disebut sebagai salah satu kemungkinan untuk mengalami proses inkulturasi, tetapi tidak boleh dimasukkan di tengah liturgi, dicampur-aduk dengan liturgi atau menggeser liturgi.

Gereja mengakui bahwa inti misteri yang dirayakan dalam semua ibadat (baik dalam liturgi maupun dalam semua bentuk kesalehan umat) adalah kehadiran Tuhan dan karya-karya-Nya yang agung dan menyelamatkan atau misteri Paskah yang mencapai puncaknya dalam hidup dan karya Yesus Kristus khususnya dalam peristiwa penderitaan, kematian dan kebangkitan-Nya. Iman yang sama akan misteri keselamatan yang sama dengan semangat yang sama dapat dihayati baik dalam liturgi maupun dalam kegiatan kesalehan umat. Secara obyektif inti misteri itu hadir dan dialami dalam liturgi, dan dalam kehidupan sehari-hari di luar perayaan liturgi (sebelum atau sesudahnya) iman itu diwujudnyatakan atau diungkapkan secara pribadi (bisa juga bersama orang lain)  dalam berbagai bentuk devosi (kesalehan umat). “Dalam perayaan liturgi, tidak semua ibadat ilahi Gereja tertampung. Mengikuti teladan dan ajaran Tuhan, para murid Kristus juga berdoa secara tersembunyi dalam bilik-bilik mereka (bdk. Mat. 6:6); mereka berkumpul untuk berdoa menurut bentuk-bentuk yang telah diciptakan oleh laki-laki dan perempuan dengan pengalaman religius yang masyhur, yang telah menyemangati kaum beriman dan mengarahkan kesalehan mereka kepada segi-segi khusus tertentu dari misteri Kristus. Mereka juga berdoa menurut tata doa yang muncul secara spontan dari dasar kesadaran Kristiani kolektif, di mana tuntutan kebudayaan populer secara serasi menampilkan unsur hakiki amanat Injil.” ((PPCE 82))

Beberapa contoh upaya penyerasian:

Hari Minggu. Hari Minggu tidak dapat ditundukkan kepada kesalehan umat. “Ulah kesalehan yang acuan waktunya adalah Minggu, hendaknya tidak dianjurkan. Namun demi manfaat pastoral kaum beriman, boleh diselenggarakan pada hari Minggu Biasa pesta-pesta Tuhan, atau pesta penghormatan Santa Perawan Maria atau orang kudus, yang jatuh pada hari biasa dalam pekan, asal kelas mereka menurut Penanggalan Liturgi Romawi lebih tinggi dari hari Minggu” (PPCE 95)

Masa Adven (PPCE 97-104). Lingkaran Adven dengan penyalaan lilinnya sebagai simbol aneka tahap sejarah keselamatan mendahului kedatangan Kristus, dilaksanakan pada awal perayaan liturgi (unsur dari Ritus Pembuka). Atau prosesi Adven dengan bintang kejora sebagai ungkapan harapan yang hampir terpenuhi dalam kedatangan Tuhan yang sudah sangat dekat. Novena Maria Dikandung Tanpa Noda mengungkapkan sikap Maria yang sungguh menyiapkan dirinya untuk menerima kedatangan-kelahiran Tuhan. Novena Natal adalah contoh penyerasian kesalehan umat dengan liturgi (Ibadat Sore). Membuat kandang Natal sebagai persiapan menerima kelahiran Tuhan juga merupakan satu bentuk kesalehan umat sebelum, selama, dan sesudah perayaan liturgi.

Masa Natal (PPCE 107, 109, 114, 118). Penghormatan khusus yang diserasikan dalam liturgi misalnya penghormatan terhadap kanak-kanak tak berdosa yang menjadi martir (28 Desember), peringatan nama Yesus yang tersuci (13 Januari), perayaan Keluarga Kudus (Minggu dalam oktaf Natal atau tanggal 30 Desember). Pohon Natal diserasikan dalam liturgi, dapat disesuaikan dengan kebiasaan setempat (misalnya di Papua Selatan mulai dipakai pohon anggin yaitu pohon yang turun dari khayangan dan di mana pohon itu tumbuh entah di keliling rumah atau kebun, akan ada perlindungan, ketenangan, kesejahteraan di sekitarnya). Vigili 31 Desember malam menjelang tahun baru dengan devosi khusus kepada Sakramen Maha Kudus dan Pujian Te Deum dapat diselaraskan dengan isi liturgis oktaf Natal sebagai persembahan penuh syukur tahun baru kepada Tuhan sebagai saat keselamatan. Salah satu bentuk kesalehan umat di seputar hari raya Penampakan Tuhan adalah pemberkatan rumah dengan menandai jenang-jenang pintu dengan salib keselamatan, angka tahun yang baru, dan huruf pertama nama ketiga orang majus (C+M+B) yang juga ditafsirkan sebagai Christus Mansionem Benedicat (Semoga Kristus memberkati rumah ini), dilengkapi dengan prosesi anak-anak sebagai kesempatan mengumpulkan bingkisan untuk karya amal dan misi.

Masa Prapaskah. Penerimaan abu adalah satu contoh penyerasian simbol pertobatan dalam perayaan liturgi (Ekaristi). “Kaum beriman yang datang menerima abu hendaknya dibantu untuk memahami makna internal yang tersirat dalam kegiatan ini, yang menyiapkan mereka untuk bertobat dan membarui komitmen Paskah” (PPCE 125). Devosi-devosi kepada Kristus yang tersalib amat banyak dan terkait dengan kesalehan umat: nyanyian dan doa-doa, kegiatan membuka selubung salib, mengecup salib, prosesi dan pemberkatan dengan salib (PPCE 128). Dalam buku perayaan Jumat Suci terdapat contoh penyerasian yang tepat. Penghayatan yang tepat dari penghormatan pada salib Kristus sebagai simbol derita dan kematian Kristus harus disatukan dengan makna kemenangan dan kebangkitan mulia.

Pekan Suci. Ada banyak kemungkinan penyerasian pada hari-hari ini. Dalam Minggu Palma nampak dalam perarakan mengenangkan masuknya Yesus ke Yerusalem (Ritus Pembuka). Perarakan dengan daun-daun palma dan ranting atau dedaunan lain menjadi sebuah kegiatan liturgis dan bukan kegiatan devosional (PPCE 139). Demikian pula dalam Ritus penutup Kenangan Perjamuan Tuhan pada Kamis Putih malam, dibuat perarakan Sakramen Maha Kudus ke tempat penyimpanan (bukan simbol makam) untuk komuni umat pada Jumat Agung dan viaticum orang sakit (PPCE 141). Dalam hari Jumat Agung dapat dibuat prosesi Kristus yang wafat dan drama sengsara Tuhan, tetapi tidak boleh menjadi atraksi wisata dan tidak boleh mengganti perayaan liturgi Jumat Agung (kenangan sengsara dan kematian Yesus Kristus). “Praktik pertobatan yang mengarah kepada penyaliban diri dengan sungguh-sungguh dipaku tidak dianjurkan” (PPCE 144, 142, 143). Dalam perayaan kenangan sengsara dan kematian Yesus Kristus, terdapat penyerasian yang tepat dari kegiatan devosional yang menjadi kegiatan liturgis yaitu pada pembukaan selubung salib, perarakan salib, penyembahan salib. Begitu pula dalam perayaan malam Paskah (Sabtu Paskah) kita temukan penyerasian upacara api dan terang lilin Paskah, Sabda Allah sebagai Terang dalam kegelapan, perecikan dengan air suci (air pembaptisan). Tradisi pemberkatan telur paskah dan pemberkatan hidangan keluarga pada Minggu Paskah  dengan menggunakan air suci yang diberkati pada malam Paskah merupakan bentuk kesalehan umat yang dapat dipertahankan dan ditingkatkan (PPCE 150).

Pada masa Paskah dapat dilakukan devosi Jalan Cahaya untuk merenungkan peristiwa-peristiwa kemuliaan dan kebangkitan Tuhan. Sebuah contoh penyerasian devosi dengan liturgi adalah Minggu Paskah II sebagai Hari Minggu Kerahiman Ilahi. Doa-doa dan  semangat dari devosi Kerahiman Ilahi diserasikan dalam doa-doa liturgis pada Hari Minggu Paskah II (PPCE 153 dan 154). Penghormatan khusus kepada Roh Kudus diserasikan dalam Novena Pentakosta dan Hari Raya Pentakosta.

Devosi kepada Tritunggal Maha Kudus diserasikan dengan liturgi pada hari raya Tritunggal Maha Kudus, seperti nampak dalam doa-doa, rumus-rumus baku yang trinitaris: Tanda Salib, Doksologi, Kemuliaan, Aku Percaya, berkat dll. Contoh lain dari penyerasian dalam liturgi adalah Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, Hati Yesus yang Mahakudus, Hati Maria yang Tak Bernoda, Darah Mulia Kristus, Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga (PPCE 160-181).

Penyerasian penghormatan kepada Bunda Allah, Santo-santa serta Beato-beata dan bagi orang yang sudah meninggal serta peran tempat ziarah dan ziarah dalam kaitan dengan devosi dan liturgi dapat dilihat dalam PPCE 183-287.

Untuk upaya penyerasian ini perlu katekese yang memadai. Contohnya misalnya tentang makna Salam Tahun Baru (PPCE 117) sebagai ungkapan kesalehan umat. Perhatian terhadap proses untuk penyerasian adalah suatu hal penting, terutama untuk menjamin kebenaran iman dan daya dampak yang positif bagi pertumbuhan hidup rohani umat beriman. Oleh karena itu bimbingan dari para petugas pastoral, penelitian dari orang-orang yang kompeten serta persetujuan dari pimpinan Gereja haruslah diperhatikan juga dalam proses penyerasian ini.

Contoh Proses Penyerasian

Dalam rangka memahami proses itu baiklah diberikan satu dua contoh. Yang pertama adalah Minggu Kerahiman Ilahi. Hari Minggu ini adalah Minggu Paskah II yang dulu pernah disebut juga Minggu Putih. Dengan menyandang nama Hari Minggu Kerahiman Ilahi, menjadi jelas bahwa penghormatan dan penyembahan kepada kerahiman Allah sebagai suatu kegiatan devosional telah mengalami proses penyerasian menjadi suatu kegiatan liturgis yang dilaksanakan dalam perayaan Ekaristi. Awalnya penghormatan khusus kepada kerahiman Ilahi itu dilaksanakan sebagai suatu kegiatan devosional oleh seorang suster dari Polandia yang bernama Suster Faustina Kowalska.

Dalam tulisan-tulisannya Suster menulis banyak refleksi yang berisi muatan teologis tentang kerahiman Ilahi. Refleksi-refleksinya memperlihatkan bahwa Suster Faustina mempunyai rasa hormat yang tinggi dan dalam terhadap rahasia kerahiman Ilahi dan secara langsung maupun tidak langsung telah mendorong banyak orang lain untuk melakukan hal yang sama. Mereka bersama-sama atau secara pribadi mendoakan koronka Kerahiman Ilahi yang berisi pujian dan penyembahan serta permohonan kepada Allah Maharahim. Akhirnya banyak orang mengikuti contohnya dan menganjurkan kepada pimpinan Gereja untuk memilih salah satu hari sebagai hari Perayaan Kerahiman Ilahi. Paus Yohanes Paulus II menanggapi usul-usul itu dan memilih Hari Minggu Paskah II sebagai Hari Minggu Kerahiman Ilahi.

Kerahiman Ilahi itu adalah kerahiman Allah Bapa yang nampak secara nyata dalam hidup dan karya Yesus Kristus. Juga sebenarnya dalam semua perayaan liturgi sepanjang Tahun Liturgi kita mengenangkan misteri penyelamatan Allah, cinta kasih Allah Bapa tanpa batas dan tanpa syarat untuk menyelamatkan manusia. Juga dalam perayaan/pesta Tuhan Yesus atau Roh Kudus dan orang kudus sebetulnya kita merayakan kasih dan kebaikan Allah Bapa yang nampak dalam diri Yesus dan dalam karya Roh Kudus serta hidup para orang kudus.

Sekedar menegaskan dan memperkuat keyakinan bahwa kerahiman Ilahi itu adalah kerahiman Allah Bapa yang nampak dalam diri Yesus Kristus dan dalam karya Roh Kudus ingin saya rujuk beberapa sumber:

  1. DOMINICA II PASCHAE seu de divina Misericordia. Dalam penanggalan liturgi (diterbitkan Komlit KWI) ditulis: HARI MINGGU PASKAH II (P). Kerahiman Ilahi.
  2. Rumusan doa devosional: Koronka kepada Kerahiman Allah, ditujukan kepada Allah Bapa: Bapa yang kekal, kupersembahkan kepada-Mu Tubuh dan Darah, Jiwa dan Ke-Allahan Putera-Mu… Demi sengsara Yesus yang pedih, tunjukkanlah belas kasih-Mu kepada kami dan seluruh dunia… Allah yang kudus, kudus dan berkuasa, kudus dan kekal, kasihanilah kami dan seluruh dunia.
  3. Kerahiman Allah Bapa ini amat nampak dalam diri dan hidup serta karya Yesus Kristus seperti diungkapkan dalam rumusan lain dari doa devosional ini: Ya Yesus, Engkau telah wafat…terbukalah lautan kerahiman bagi segenap dunia… Yesus, Raja Kerahiman Ilahi, Engkaulah andalanku.
  4. Doa Pembuka MINGGU PASKAH II dimulai dengan seruan kepada Allah Bapa yang kerahiman-Nya abadi: Deus misericordiae sempiternae…
  5. Dalam buku-buku-sumber liturgi yang ditulis mulai abad V, VI, VII ungkapan misericors (yang rahim) ataumisericordia (kerahiman) dalam seruan awal dari doa-doa pemimpin (doa liturgis) umumnya mengacu kepada Allah Bapa, seperti misecors deus (Sacramentarium Veronense no 194 dan 200) Deus misericordiae(Sacramentarium Gregorianum no 2079 dan 2118). Warisan ini (Allah Maharahim adalah Allah Bapa yang kerahiman-Nya nampak jelas dalam diri, hidup dan karya Yesus Kristus serta Roh Kudus) diteruskan dalam teks-teks liturgi yang terdapat dalam buku misa Paulus VI termasuk edisi ke 3 pada tahun 2002. Dengan ungkapan liturgis ini Allah Bapa itu tidak hanya mempunyai kuasa dan bersifat perkasa seperti seorang bapa, tetapi juga penuh kerahiman (punya rahim) dan kasih sayang seperti seorang ibu.

Berdasarkan rujukan-rujukan itu kita dapat memahami bahwa doa-doa devosional Kerahiman Ilahi itu tidak mengalami kesulitan besar dalam proses penyerasian dengan liturgi karena doa-doanya diarahkan kepada Allah Bapa yang Maharahim. Semua doa liturgis menurut tradisi liturgi Romawi, selalu diarahkan kepada Allah Bapa, melalui (dengan pengantaraan) Yesus Kristus dalam persatuan dengan Roh Kudus, sebagaimana nampak dalam rumus doksologi dan rumusan akhir dari doa-doa pemimpin. Ungkapan penghormatan kepada Allah yang Maharahim juga dilakukan dengan menggunakan struktur doa liturgis, sehingga doa-doa itu tidak lagi berbentuk doa devosional tetapi telah beralih menjadi doa liturgis.

Sebuah contoh lain mengenai proses penyerasian devosi dengan liturgi adalah Perayaan Tubuh dan Darah Kristus. Perayaan ini sangat populer dalam Gereja Barat. Mulanya penghormatan khusus kepada Tubuh dan Darah Kristus itu dilaksanakan berdasarkan penampakan yang dialami oleh seorang suster Agustinian, yang bernama Juliana,. Peristiwa penampakan itu terjadi di Liege tahun 1246. ((Peter G. Cobb, “The History of the Christian Year” dalam Cheslyn Jones, Geoffrey Wainwright, Edwar Yarnold, SJ (edd.), The Study of Liturgy, Williams Clowes Limited, London, 1983, hlm. 412.)) Itu berarti penghormatan khusus yang dibuat oleh suster Juliana itu mempengaruhi orang lain dan pimpinan Gereja setempat (uskup) untuk melaksanakan penghormatan yang khusus kepada Tubuh dan Darah Kristus dalam perayaan Ekaristi. Pertama perayaan itu dilaksanakan di Liege, kemudian menjadi perayaan seluruh Gereja di bawah kepausan Urbanus IV, yang sebelumnya adalah diakon di Liege.

Bagaimana penyerasian itu terjadi? Devosi terhadap Tubuh dan Darah Kristus tidak dimasukkan di tengah perayaan Ekaristi (Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi), tetapi doa-doa dan nyanyian-nyanyian liturgis diserasikan dengan isi dan semangat devosi khusus kepada Tubuh dan Darah Kristus. Struktur dari doa-doa liturgis tidak diubah tetapi tetap dipertahankan. Arah dari doa tetap ditujukan kepada Allah Bapa dengan pengantaraan Kristus dalam persatuan dengan Roh Kudus.

Perayaan Para Martir dan Bunda Maria, Bunda Allah. Penghormatan kepada para martir pada abad-abad pertama merupakan suatu devosi khusus lantaran keserupaan mereka dengan derita dan kematian serta kebangkitan Yesus Kristus. ((Peter G. Cobb, Op.cit. hlm. 421-426.)) Penghormatan khusus itu diperlihatkan melalui peletakan relikwi di atas altar, yang berarti bersatu dengan altar dan menjadi bagian dari altar yang adalah Kristus sendiri sebagai korban dan pembawa korban. Penghormatan khusus diberikan juga kepada orang-orang kudus bukan martir teristimewa kepada Santa Perawan dan Bunda Maria. Teks nyanyian dan doa-doanya diselaraskan dengan perayaan liturgi Ekaristi. Dalam doa-doa liturgis, para kudus tidak menjadi arah tujuan satu-satunya dari doa, melainkan Allah dalam Yesus Kristus. Perarakan Sakramen Maha Kudus pada akhir perayaan juga merupakan satu upaya konkrit dalam menyelaraskan devosi dengan liturgi.

Kesimpulan

Beberapa pokok pikiran dapat kita simpulkan berkaitan dengan penyelarasan kesalehan umat (devosi) dengan liturgi.

Penyelarasan dimulai dengan upaya menjalankan devosi yang mengarah kepada liturgi dan yang bersumber dari liturgi. Penyelarasan berbeda dari pemaduan atau pencampuradukan keduanya. Sebaliknya penyelarasan berarti saling mempengaruhi, saling melengkapi, saling menyuburkan dan bukan saling meniadakan atau saling mengganti.

Untuk mencapai keselarasan dituntut kerjasama yang tulus dari semua pihak dalam satu proses yang matang, yang terbuka terhadap bimbingan Roh Kudus hingga diputuskan oleh yang berwewenang, dalam hal ini oleh pimpinan Gereja.

Dalam proses mencapai penyelarasan itu, semangat devosional menjadi semangat liturgis, doa-doa devosional menjadi doa-doa liturgis dengan struktur dan isi liturgis, teks nyanyian devosional menjadi nyanyian liturgis karena memenuhi tuntutan liturgis, simbol devosional menjadi simbol liturgis dan kegiatan devosional menjadi kegiatan liturgis.

Hidup yang Diubahkan Kristus melalui Ekaristi

I. Yesus yang kita terima dalam Ekaristi

Ada sebagian umat Katolik yang mempertanyakan: Apakah yang dapat kita terima dari mengikuti Ekaristi? Pertanyaan ini muncul karena mengikuti perayaan Ekaristi dipandang sebagai rutinitas belaka. Bahkan ada yang mengatakan, seseorang tidak mendapatkan apa-apa dari Ekaristi: ini sebuah pernyataan yang mungkin timbul karena ketidaktahuan. Namun, kalau seseorang benar-benar memahami tentang apa sebenarnya makna Ekaristi, bahwa Yesus sendiri hadir secara nyata – tubuh, darah, jiwa dan ke-Allahan-Nya -, maka sesungguhnya tidak ada yang dapat menggantikan Ekaristi. Itulah sebabnya Gereja Katolik mengatakan bahwa Ekaristi adalah sumber dan puncak kehidupan Kristiani (LG,11, KGK 1324), karena di dalamnya terkandung seluruh kekayaan rohani Gereja, yaitu Kristus sendiri. (lih. KGK 1324)

Kalau banyak orang berdoa agar Kristus dapat mewarnai, memberikan inspirasi, dan memberikan kekuatan dalam kehidupan, maka doa apakah yang dapat melebihi Ekaristi, di mana Kristus sendiri menyediakan diri-Nya untuk bersatu dengan kita secara lahir dan batin: Ia menyerahkan diri-Nya untuk menjadi santapan rohani bagi kita, untuk bersatu dengan tubuh dan jiwa kita. Tidak ada persatuan yang lebih erat antara kita dengan Kristus dibandingkan dengan persatuan yang terjadi di dalam Ekaristi. Persatuan yang erat dan tak terpisahkan dengan Kristus inilah yang dapat mengubah kehidupan kita, sehingga kita dapat mengalami pertobatan yang terus menerus, mampu untuk menjalani hidup ini dengan penuh pengharapan termasuk di dalam penderitaan kita. Melalui Ekaristi, kita dibentuk oleh Kristus sehingga mampu untuk melayani dan mengasihi sesama, bertumbuh dalam kekudusan, agar kita dapat sampai kepada keselamatan kekal.

II. Buah-buah Ekaristi

Untuk dapat memahami bagaimana Ekaristi dapat mengubah kita, maka kita perlu melihat buah-buah dari Ekaristi. Katekismus Gereja Katolik (KGK, 1391-1401), menjelaskan tentang buah-buah Ekaristi, yang terdiri dari: (1) Memperdalam persatuan kita dengan Kristus (KGK, 1391-1392); (2) Memisahkan kita dari dosa (KGK, 1393); (3) Memperkuat kasih dan menghapus dosa ringan (KGK, 1394); (4) Menjauhkan kita dari dosa berat masa mendatang (KGK, 1395); (5) Mempersatukan kita dengan Gereja (KGK, 1396); (6) Mengarahkan kita untuk berpihak pada kaum miskin (KGK, 1397); (7) Kesatuan dengan seluruh umat Kristen (KGK, 1398-1401).

Dari penjelasan Katekismus Gereja Katolik di atas, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa buah-buah Ekaristi yang terutama adalah persatuan kita dengan Kristus sendiri, yang menyebabkan kita juga bersatu dengan Gereja yang adalah umat Allah, karena Kristus tak terpisahkan dengan Gereja-Nya, yang adalah anggota- anggota-Nya. Persatuan dengan Kristus ini juga yang memungkinkan kita untuk terpisah dari dosa sehingga kita dapat bertumbuh dalam kasih. Persatuan dengan Kristus ini membuat seseorang tidak mau mendukakan hati Kristus, termasuk dengan melakukan dosa ringan. Dan kalau seseorang telah mencoba melenyapkan dosa ketika dosa tersebut masih ringan, maka orang tersebut dapat dijauhkan dari dosa berat.  Dengan disposisi hati yang baik, maka kesatuan dengan Kristus dalam Sakramen Ekaristi akan membawa perubahan-perubahan di dalam kehidupannya ke arah yang lebih baik.

III. Ekaristi membuat kita mempunyai ‘aroma’ Kristus

Kalau seseorang makan buah duren, maka tanpa orang berkata apapun, sesungguhnya semua orang akan tahu bahwa orang tersebut baru saja makan duren. Mengapa? Karena seluruh tubuhnya mengeluarkan bau duren, seolah-olah duren telah bersatu dengan seluruh tubuh dan darah dari orang itu, dan mempengaruhi aroma tubuhnya. Bagaimana kalau seseorang menyantap Kristus sendiri dalam Ekaristi? Seharusnya orang tersebut harus mengeluarkan aroma Kristus, sehingga orang-orang dapat melihat bahwa ada Kristus di dalam diri orang tersebut.

Seharusnya orang yang telah menyantap Kristus harus berubah secara perlahan-lahan menjadi semakin serupa dengan Kristus sendiri. Kristus yang tentu saja lebih kuat dari duren, mampu untuk mengubah kita dari dalam, sehingga kehidupan kita dapat memancarkan kasih Kristus. Di bawah ini, kita akan melihat perubahan seperti apa yang seharusnya terjadi dalam kehidupan kita kalau kita terus dipersatukan oleh Kristus dalam Ekaristi?

IV. Ekaristi membawa pada pertobatan yang terus menerus

Perubahan pertama yang terjadi dalam diri kita adalah pertobatan yang terus menerus. Belas kasihan Tuhan yang dinyatakan di dalam Ekaristi membawa pertobatan, yang artinya ‘berbalik dari dosa menuju Tuhan’. Hal ini disebabkan karena kita tidak dapat bersatu dengan Tuhan yang kudus, jika kita tetap tinggal di dalam dosa. Pertobatan yang diikuti oleh pengakuan dosa yang menyeluruh adalah langkah pertama yang harus dibuat jika kita ingin sungguh-sungguh memulai kehidupan rohani. Langkah ini adalah pemurnian dari dosa berat (mortal sin). ((Cf. St Francis de Sales, An Introduction to the Devout Life, (TAN Books and Publishers, Rockford, Illinois, USA, 1994), p.14-15)) Sakramen Ekaristi tidak secara langsung menghapuskan dosa-dosa berat ini -sebab dosa- dosa berat harus diakukan dan dimohon pengampunannya melalui sakramen Tobat- namun Ekaristi secara tidak langsung menyumbangkan pengampunan atas dosa-dosa tersebut. ((Lihat Lawrence G. Lovasik, The Basic Book of the Eucharist, p. 77.)) Selanjutnya melalui Ekaristi, Tuhan memberikan rahmat kepada kita agar kita sungguh-sungguh bertobat, ‘membenci’ dosa kita, dan hidup dalam pertobatan yang terus-menerus, sebab Dia membantu kita untuk melepaskan diri dari keterikatan yang tidak sehat kepada dunia, yang menurut Santo Franciskus de Sales adalah ‘segala kecenderungan untuk berbuat dosa’. Di dalam Ekaristi, kita ‘melihat’ penderitaan Kristus, sebagai akibat dari dosa-dosa kita, sehingga kita terdorong untuk menghindari dosa tersebut. Dengan pertobatan ini, selanjutnya kita dapat bertumbuh dengan berakar pada Kristus. ((lih. KGK, 1394))

V. Kesediaan untuk menyangkal diri dan memikul salib untuk mengikuti Kristus

Karena Ekaristi adalah menghadirkan kembali misteri Paskah – penderitaan, kematian, kebangkitan dan kenaikan Kristus ke Sorga – maka sesungguhnya, perubahan dalam hidup kita adalah kesediaan untuk turut serta dalam penderitaan Kristus dan menghadapinya bersama Kristus. Ini juga sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Kristus, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Mat 16:24)

Bagaimana kita dapat menyangkal diri dan memikul salib? Kita bersama-sama menyadari bahwa nilai-nilai yang ada di dunia ini sering bertentangan dengan nilai-nilai kekristenan. Rasul Yohanes mengatakan bahwa semua yang ada di dunia ini – yaitu keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup – bukanlah berasal dari Bapa (lih. 1Yoh 2:16). Penyangkalan diri diwujudkan dalam penyangkalan kedagingan kita, nafsu-nafsu kita yang tidak teratur; menyangkal diri yang menomor-satukan pekerjaan, harta dan kekuasaan; dan menyalibkan keangkuhan diri kita. Ini bukanlah pekerjaan yang mudah.

Namun, semua bentuk penyangkalan diri ini dan pengorbanan memikul salib terlebih dahulu dilakukan oleh Kristus sendiri. Dan kurban Kristus inilah yang dihadirkan kembali secara nyata dalam setiap perayaan Ekaristi. Oleh karena itu, kita yang telah dipersatukan oleh Kristus di dalam Ekaristi, diberikan kekuatan oleh Kristus untuk melakukan penyangkalan diri, memikul salib untuk mengikuti Dia. Semua penderitaan yang dialami oleh Kristus menjadi inspirasi dan kekuatan bagi kita untuk menghadapi berbagai penderitaan dengan tetap berpengharapan. Untuk mencapai hal ini, tidak ada cara lain, kecuali jika kita menyatukan penderitaan kita dengan penderitaan Kristus; agar oleh kuasa-Nya kitapun dimampukan untuk menghadapinya dengan tegar oleh karena percaya bahwa penderitaan akan membawa kita kepada kebangkitan bersama Kristus. Persatuan diri kita dengan Kristus dapat kita alami dan hayati di dalam setiap perayaan Ekaristi Kudus.

VI. Siap untuk melayani bersama Kristus

Kristus mengatakan, “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mat 20:26-28) Persatuan dengan Kristus seharusnya membawa kita kepada semangat pelayanan, karena untuk itulah Kristus datang, yaitu untuk melayani kita manusia.

Menarik bahwa di ayat Mat 20:28, ketika Kristus berbicara tentang melayani, Ia menyebutkan tentang pemberian nyawa atau pemberian diri. Memang melayani adalah memberikan diri kita kepada orang lain. Sama seperti Kristus yang kematian-Nya [penyerahan diri-Nya] dihadirkan kembali di dalam setiap perayaan Ekaristi. Dia telah wafat, memberikan di-Nya untuk seluruh umat manusia. Oleh karena itu, kita juga harus memberikan diri kita untuk orang lain, yang harus kita mulai dari orang-orang terdekat kita: keluarga, komunitas kita, paroki kita, dan komunitas lainnya. Semangat Ekaristi akan menghasilkan bagi kita kekuatan untuk dapat melayani sesama, mengasihi mereka apa adanya, sama seperti Kristus rela mati untuk kita walaupun kita masih dalam kondisi berdosa (lih. Rom 5:8).

VII. Bertumbuh dalam kekudusan dengan spiritualitas Ekaristi

Kalau setiap hari kita mempunyai spiritualitas Ekaristi, maka kita akan semakin erat bersatu dengan Kristus. Misteri Paskah Kristus dapat menjadi kekuatan bagi kita untuk menjalankan hidup ini dalam terang kematian dan kebangkitan Kristus, sehingga pada saat kita menghadapi penderitaan kita tidak kehilangan harapan dan sebaliknya pada saat kita mengalami kebahagiaan kita tidak lupa kepada Tuhan yang telah memberikan kebahagiaan kepada kita.

Semangat kematian dan kebangkitan Kristus yang kita rayakan dalam peristiwa Ekaristi juga menyadarkan bahwa Kristus yang adalah Allah sungguh mengasihi kita, sehingga tidak ada cara lain bagi kita kecuali membalas kasih Kristus, dengan cara mengasihi-Nya dengan segenap hati, jiwa dan akal budi (lih. Mat 22:37). Kesadaran bahwa Allah telah mati bagi seluruh umat manusia, membuat kita juga mau mengasihi sesama kita atas dasar kasih Allah yang terlebih dahulu mengasihi sesama kita. Dengan demikian, spiritualitas Ekaristi yang kita hayati dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari dapat menuntun kita kepada kekudusan, yaitu mengasihi Allah dan mengasihi sesama atas dasar kasih kepada Allah. Kekudusan ini akan membawa kita kepada keselamatan, karena tanpa kekudusan tidak ada seorangpun yang dapat melihat Allah (lih. Ibr 12:4).

VIII. Yesus mengubah kita dari dalam

Kalau kita benar-benar menghayati spiritualitas Ekaristi dan sesering mungkin berpartisipasi dalam perayaan Ekaristi, maka secara perlahan-lahan, kita akan dibentuk oleh Kristus menjadi semakin mirip dengan Kristus. Kalau dalam perayaan Ekaristi, keseluruhan Kristus (tubuh, darah, jiwa dan keallahan Kristus) bersatu dengan kita dan kalau kita mempunyai disposisi hati yang baik untuk membiarkan Kristus mengubah dan membentuk kita, maka Kristus akan mengubah kita dari dalam. Dan perubahan ini memampukan kita untuk senantiasa mengalami pertobatan terus-menerus, mampu untuk menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti Kristus apapun resikonya, diberi kemampuan untuk melayani sesama, dan pada akhirnya diberikan rahmat dan kekuatan untuk bertumbuh dalam kekudusan, hingga pada akhirnya akan mengantar kita kepada keselamatan kekal. Mari mempercayai apa yang disabdakan oleh Kristus, “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.” (Yoh 6:54).

sumber: katolisitas.org

Buat situs web Anda di WordPress.com
Memulai